11. Memikirkan Apa Yang Dipikirkan Oleh Allah

KETIKA TUHAN YESUS menyatakan bahwa Ia harus mati disalib di Yerusalem, maka mewakili murid-murid, Petrus menegur Tuhan Yesus.1 Teguran itu menunjukkan bahwa mereka menuduh Tuhan Yesus keliru. Pernyataan Tuhan Yesus -yang sejatinya memuat rencana agung keselamatan manusia- mereka anggap bukan berasal dari Allah. Mereka tidak setuju dan tidak menghendaki skenario hidup seperti itu. Mereka menganggap bahwa yang mereka pahami selama ini sudah benar sesuai dengan rencana Allah. Dalam pikiran mereka, Allah (Yahwe) akan mengirim seorang penyelamat yang akan membawa mereka ke zaman kejayaan dan keemasan seperti masa Raja Daud dan Salomo. Mereka “tidak ingin mati, tetapi mereka ingin hidup”. Padahal mengikut Tuhan Yesus berarti mengikut Tuhan dalam kematian-Nya.2

Pikiran murid-murid bertolak belakang dengan pikiran Tuhan Yesus. Di balik tindakan Petrus nampak bahwa mereka “menjagokan Tuhan” untuk meraih apa yang mereka hasrati dan yang mereka cita-citakan. Berarti mereka sebenarnya tidak bermaksud untuk mengikut Tuhan Yesus menjadi penjala jiwa, tetapi mereka ingin Tuhan Yesus menjadi penjala dunia bagi mereka. Fakta ini juga terjadi dalam kehidupan orang Kristen hari ini. Ternyata yang mengajarkannya adalah sebagain pembicara di mimbar gereja yang mengatas namakan Tuhan dalam menyampaikan Firman Tuhan. Padahal mereka tidak menyampaikan Firman Tuhan tetapi firman manusia. Pemberitaan Firman yang tidak dipandu oleh kaidah-kaidah penafsiran Alkitab yang benar dan tuntunan Roh Kudus adalah firman manusia.

Tuhan Yesus menghardik Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Tuhan Yesus tidak menyatakan bahwa pribadi Petrus adalah Iblis, tetapi apa yang diyakini sebagai kebenaran padahal bukan, itulah Iblis. Dalam hal ini sangatlah jelas bahwa dalam lingkungan kehidupan anak-anak Allah yang dipanggil untuk hidup seirama dengan Tuhan, pikiran yang bukan berasal dari Allah adalah dari Iblis. Pikiran yang dari Iblis menjadi batu sandungan yang dapat menggagalkan rencana Allah dalam hidup orang pilihan Allah. Sungguh, banyak Injil palsu yang dikampanyekan oleh orang-orang yang sebanrnya tidak jahat secara umum, tetapi karena mereka tidak mengerti kebenaran. Hal ini terjadi sebab pikiran duniawi sudah sangat kuat, sehingga mereka tidak mengenali “spirit Tuhan Yesus atau spirit Injil yang murni”. Injil yang mereka ajarkan adalah Injil untuk membuat orang percaya hidup dalam kemapanan ala dunia.

Iblis melalui berbagai sarana dan media telah menginvestasikan pikiran-pikirannya di dalam kehidupan murid-murid, sehingga mereka tidak mengenal apa yang berasal dari Allah dan yang berasal dari kuasa Iblis. Apa yang masuk dalam pikiran seseorang seperti suatu unsur kimia yang membuat formula di dalam mangkuk pikiran. Formula tersebut sama dengan mindset. Formula di sini maksudnya adalah susunan atau bentuk tetap yang dibangun dari beberapa unsur. Pada kenyataannya, mindset atau cara berpikir dibangun di atas berbagai pemikiran yang diakumulasi dalam waktu yang panjang. Juga disertai dengan pengalaman hidup yang dipandang sebagai kenikmatan. Untuk merubah formula tersebut, kita membutuhkan waktu yang lama. Seperti benang kusut, kita harus hati-hati dan tekun untuk dapat mengurainya. Dalam hal ini Injil berfungsi sebagai unsur kimia yang menetralisir -bahkan melenyapkan- formula lama dan membentuk formula baru. Formula inilah yang mengarahkan hidup seseorang, juga membentuk nilai-nilai di dalam diri seseorang, apa yang dipandang bernilai dan yang dipandang tidak bernilai. Sayangnya, oleh karena kebodohan, mereka tidak dapat membedakan antara value dan price (nilai dan harga). Apa yang dipandang dunia berharga mereka juga ikuti sebagai sesuatu yang berharga, padahal nilainya rendah. Hanya Injil yang dapat mencelikkan pikiran hati mereka atau memberi terang.

1) Matius 16:21-23; 2) Filipi 3:10-11

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.