1 Januari 2015: Indah Pada Waktunya

Kalimat indah “indah pada waktunya” populer di kalangan orang-orang Kristen, dijadikan bahan diskusi, kotbah dan syair lagu. Tetapi banyak orang salah memahami kalimat tersebut. Kalimat ini harus dipahami dengan benar, sebab pengertiannya tidak sederhana. Hal utama yang harus diperhatikan adalah apakah keindahan itu dan apakah ukuran keindahan tersebut? Kata indah berarti keadaan enak, menyenangkan dan membahagiakan untuk dipandang dan dirasakan. Dalam konteks ini, indah pada waktunya berarti pada waktu tertentu seseorang akan mengalami keadaan yang indah atau keadaan yang membahagiakan. Bisa dimengerti kalau kalimat ini menjadi populer, sebab banyak orang memimpikan keadaan tersebut. Kalimat tersebut di lingkungan Kristen menjadi populer juga didorong oleh pengertian yang salah yaitu mengingini dunia ini menjadi “firdaus”. Masa depan yang penuh harapan dan waktu yang indah dipahami mereka sebagai masa dan waktu di bumi ini. Ini salah.

Apakah ukuran keindahan itu? Ukuran keindahan haruslah dari sudut pandang Tuhan. Karena yang indah bagi seseorang belum tentu indah di mata Tuhan. Manusia yang berdosa adalah manusia yang mata hatinya menjadi gelap sehingga tidak mampu memahami apa yang indah menurut Tuhan. Tuhan Yesus berkata: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.1 Untuk menemukan apa yang indah itu seseorang harus belajar kebenaran sehingga mata hat­inya tercelik untuk memahaminya. Keindahan adalah Tuhan sendiri dan segala sesuatu yang berguna bagi kepentingan Tuhan atau bagi kemuliaan Allah. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang orang percaya lakukan dan semua sarana yang dimiliki harus digunakan bagi Tuhan.2

Kalau keindahan hanya dipahami sebagai keadaan baik dimana manusia memperoleh pemenuhan kebutuhan jasmani maka berarti keindahan yang dipahami tidak sesuai dengan Tuhan. Biasanya orang-orang yang pikirannya tertuju kepada pemenuhan kebutuhan jasmani adalah orang-orang yang egois dan duniawi. Inilah yang dimaksud Paulus dengan orang-orang yang pikirannya semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.3 Mereka tidak melayani Tuhan tetapi melayani diri sendiri, bahkan berurusan dengan Tuhan pun hanya karena hendak menggunakan Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Ini berarti Tuhan dijadikan alat untuk melayani dirinya. Orang-orang seperti ini tidak pernah mengenal keindahan hidup yang sejati.

Banyak orang Kristen yang menantikan “indah pada waktunya”, hanya menantikan Tuhan memenuhi segala kebutuhan jasmaninya, suatu keadaan menyenangkan jauh dari ancaman dan berharap dengan mudahnya nanti masuk surga. Mereka tidak mengerti secara benar bahwa segala sesuatu yang terjadi, di dalamnya termasuk keadaan yang buruk, mendatangkan kebaikan untuk “menjadi serupa dengan Tuhan Yesus”.4 Mengerti secara benar artinya memahami maksud Tuhan mengubah kepribadiannya menjadi serupa dengan Tuhan. Itulah keindahan. Jadi walaupun tidak terpenuhinya kebutuhan jasmani, asal proses semakin seperti Kristus berlangsung, tidak masalah sama sekali. Ini berarti lebih dari sekedar tidak salah pilih jodoh, sukses dalam karir, berhasil dalam bisnis dan segala sesuatu yang baik bertalian dengan kehidupan di bumi ini, menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus adalah hal yang terutama dalam hidup. Tuhan adalah sumber segala keindahan. Jadi dikatakan indah kalau seseorang menjadi seperti Tuhan dan berguna bagi kemuliaan-Nya. Ini sejajar dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa tidak ada yang baik selain Tuhan.5 Kalau seseorang memandang keindahan demikian dan berusaha mencapainya, maka berarti ia mengikuti Tuhan Yesus dengan benar, sebagai hasilnya ia akan berhati nurani dan bergaya hidup seperti Tuhan Yesus.6 Inilah tujuan hidup satu-satunya bagi orang percaya.

1) Matius 6:22-23 2) 1Korintus 10:31 3) Filipi 3:19 4) Roma 8:28-29 5) Matius 19:17;
6) Filipi 2:5-7

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.