1. BERITA YANG HILANG

HAL KEMUSAFIRAN orang percaya sudah sangat langka terdengar atau hampir-hampir tidak pernah terdengar sama sekali dalam kehidupan orang Kristen dewasa ini. Padahal ini adalah tema yang sangat penting, karena di dalamnya memuat pokok pengajaran yang harus dipahami oleh setiap orang percaya. Hal ini terjadi disebabkan oleh karena banyak orang Kristen sebagai individu dan gereja sebagai komunitas telah hanyut dalam percintaan dunia dan hidup dalam kewajaran seperti manusia yang lain. Banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa mereka bukan dari dunia ini, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus.1 Paulus menulis bahwa kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.2

Dari sejak masa kanak-kanak banyak orang telah terdidik memiliki pola berpikir anak-anak dunia. Mereka merasa bahwa dunia inilah satu-satunya kesempatan dan tempat yang dimiliki manusia untuk dapat dinikmati. Mereka berpikir bahwa tidak ada kehidupan lain selain di bumi ini. Dengan demikian mereka tidak mengharapkan ada kehidupan lain yang lebih baik. Cara berpikir seperti ini juga ada dalam kehidupan banyak orang Kristen. Kalau cara berpikir seperti ini tidak diubah, maka mereka akan terpenjara di dunia ini sampai masuk ke dalam lautan api. Mereka tidak akan diangkat Tuhan dalam pengangkatan di akhir zaman nanti. Orang-orang Kristen seperti yang tersebut di atas juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati dunia semaksimal mungkin. Demi menikmati dunia ini mereka rela mengorbankan segala sesuatu. Bahkan pengiringannya kepada Tuhan pun tidak diperhatikan secara benar. Orang-orang seperti ini tidak berhasrat mengadakan perjalanan iman atau perjalanan rohani (pilgrimage). Inilah orang-orang yang “betah” tinggal di bumi dan berkeberatan untuk diungsikan. Pada dasarnya mereka seperti orang-orang pada zaman Nuh yang menolak masuk ke dalam bahtera atau seperti penduduk Sodom dan Gomora yang menolak meninggalkan kota mereka yang akan dihancurkan oleh Tuhan. Orang-orang Kristen yang tidak mengadakan perjalanan rohani ini seperti orang-orang Israel yang selalu mengingat Mesir, sehingga mereka ditewaskan di padang gurun dan tidak pernah menginjak tanah Kanaan permai.

Rasul Petrus mengatakan bahwa kita sebagai orang percaya di bumi ini adalah “pendatang dan perantau”.3 Kata pendatang dalam teks aslinya adalah paroikos (παροικος) yang artinya a stranger atau a foreigner (orang asing atau orang yang berasal dari luar daerah atau negara). Kata paroikos dalam arti luasnya adalah orang yang tinggal di suatu daerah tanpa hak sebagai warga negara. Petrus juga menggunakan istilah paroikos dalam 1Petrus 1:17; bahwa orang percaya adalah orang yang menumpang di bumi ini. Sedangkan kata perantau dari teks aslinya adalah parepidemos (παρεπιδημος) yang berarti seorang musafir (a pilgrim), yaitu orang yang sedang ada di suatu perjalanan, tidak menetap di suatu daerah sebab sedang menuju suatu tempat tertentu. Rasul Petrus menggunakan ilustrasi pendatang dan orang yang menumpang di bumi untuk menunjukkan secara tegas posisi orang percaya di tengah-tengah dunia di mana pun dan kapan pun.

Oleh karena langkanya atau tidak adanya berita mengenai kemusafiran orang percaya ini, maka sangat besar kemungkinan banyak orang Kristen memandang hal kemusafiran ini sebagai sesuatu yang sangat asing atau bahkan aneh. Hal ini terjadi karena sudah sangat lama orang Kristen tidak mendengar ajaran ini. Kalau orang percaya tidak memahami pokok pengajaran ini, sulitlah menjadi orang percaya yang rohani. Perpindahan orang percaya ke Kerajaan Surga bukanlah dimulai nanti setelah kematian, tetapi harus dimulai sejak sekarang selama masih hidup di dunia. Orang yang tidak menjalani hidup kemusafiran dan memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga tidak akan memiliki harta dalam Kerajaan Surga. Ini artinya tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Berita ini harus mulai digemakan sekarang, hendaknya setiap telinga mendengar, setiap mata terbuka dan setiap hati digetarkan agar jalannya yang sesat dikembalikan ke jalan yang benar menuju Kerajaan Surga. Selanjutnya mari kita mulai belajar untuk menghayati kehidupan sebagai musafir di dunia ini. Tanpa memiliki jiwa kemusafiran yang benar, seseorang tidak pernah memiliki iman seperti Abraham, berarti ia belum memiliki percaya yang benar kepada Tuhan Yesus.

1) Yohanes 17:16 ; 2) Filipi 3:20 ; 3) 1Petrus 2:11

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.