1 Agustus 2014: Menemukan Allah Yang Dahsyat

Dalam Yakubus 2:19, dikatakan bahwa iblis gemetar di hadapan Tuhan. Dalam teks aslinya kata iblis lebih tepat diterjemahkan roh-roh jahat (dari kata daimonia). Jadi, sebenarnya yang gemetar adalah roh-roh jahat. Mengapa mereka gemetar? Sebab mereka mengalami kedahsyatan Allah. Kata gemetar dalam teks aslinya adalah phrisso (φρίσσω) yang artinya to shudder, extreme fear, to be horrified (bergetar, sangat ketakutan). Kata takut di sini berbeda dengan takut dalam Injil Matius 10:28. Takut di Matius 10:28 adalah phobeo (φοβέω). Kata phobeo juga berarti direbut atau disita atau ditangkap dengan alarm atau tanda peringatan (to be seized with alarm). Kalau takutnya roh-roh jahat karena tidak tahan berdiri di hadapan Tuhan Yang Mahakudus berhubung mereka telah memberontak kepada-Nya. Tetapi anak Tuhan takut karena sebuah alarm atau tanda peringatan. Tanda peringatan di sini bisa menunjukkan pengenalan akan siapa Tuhan. Pengenalan akan Tuhan bisa menunjukkan tanda bahaya, atau peringatan agar seseorang bersikap waspada. Sikap waspada inilah yang membuat seseorang tidak berani berbuat seperti tidak memiliki aturan atau asal-asalan (sembrono). Kalau seseorang mengenal Tuhan pasti memiliki alarm, sehingga tidak berani berbuat sembarangan.

Lebih baik phobeo sekarang daripada nanti menjadi phrisso seperti roh-roh jahat. Tetapi untuk membangun perasaan ini tidak mudah, karena untuk memiliki perasaan takut yang kudus (phobeo) terhadap Tuhan harus dibangun melalui sebuah perjalanan yang panjang. Hal ini tidak bisa dicapai dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. Jika seseorang mengenal Tuhan dengan benar dan mengalami Tuhan secara riil maka ia akan mengerti arti kedahsyatan Tuhan. Kedahsyatan yang dialami seseorang sehingga membangun takut akan Allah secara benar akan membangkitkan kesucian hidup yang murni dan natural. Takut akan Tuhan yang benar juga akan membakar hati seseorang mengasihi Tuhan dan berusaha membuktikan kasihnya dalam tindakan yang konkrit. Betapa bahagianya kalau seseorang dapat menemukan ruangan hidup dimana ia bisa memiliki kegentaran akan Tuhan dari kedahsyatan-Nya yang agung, kudus dan menakjubkan tersebut. Takut akan Tuhan yang benar ini merupakan kekayaan abadi yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Dari takut akan Tuhan ini dapat diukur kedewasaan rohani seseorang di hadapan Tuhan. Sekaligus hal ini akan menjadi ciri kedewasaan seseorang.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.