09. PENGERTIAN DOA PERJANJIAN BARU

Selanjutnya kita membedah kata berdoa dalam Roma 10:1. Adapun kata berdoa dalam bahasa aslinya dalam ayat ini adalah deesis (δέησις), yang artinya juga kebutuhan (need), keinginan (want), fakir miskin (indigent), kekurangan (privation), permintaan (asking), pencarian (a seeking), permohonan (entreating, supplication, request) yang sama dengan permintaan kepada Tuhan (prayer).

Sangat penting untuk memahami pengertian doa dalam kehidupan orang percaya. Doa dalam kehidupan orang percaya tidak sama dengan pengertian doa dalam agama-agama pada umumnya, bahkan tidak sama dengan doa dalam agama Yahudi atau umat Perjanjian Lama. Dalam kehidupan Perjanjian Baru, dimana setiap individu menerima materai Roh Kudus, berdoa bukan sekadar permintaan, tetapi doa adalah berdialog. Mengapa? Sebab umat Perjanjian Baru adalah umat yang harus mengerti segala sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan. Itulah sebabnya orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaaan Kristus (Flp. 2:5-7). Dengan demikian doa dalam Kekristenan tidak sederhana, harus disertai dengan pembaharuan pikiran setiap hari, sehingga seseorang dapat mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Dalam hal ini, idealnya orang percaya tidak sembarangan menyampaikan permintaan kepada Tuhan. Orang percaya harus menggumuli semua keinginannya di hadapan Tuhan dalam dialog, sebelum menyampaikannya sebagai permintaan kepada Tuhan.

Aspek lain dalam doa, orang percaya yang adalah milik Tuhan secara penuh, tidak berhak lagi memiliki keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Segala sesuatu yang dilakukan harus sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita suatu prinsip: Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Maksud prinsip ini adalah bahwa kita hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dengan demikian, idealnya orang percaya yang dewasa harus sadar, bahwa dirinya tidak berhak meminta sesuatu kepada Tuhan jika permintaan tersebut di luar kehendak dan rencana-Nya.

Akhirnya, di dalam doa, seseorang memiliki tanggung jawab untuk melakukan sesuatu sesuai dengan isi doa tersebut, tentu jika isi doa tersebut sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. Seperti misalnya dalam Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami bukan formula kalimat doayang memuat permintaan-permintaan dari keinginan agar terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan. Tetapi di dalam doa tersebut ada panggilan untuk dipenuhi. Kalau dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat:“Dipermuliakan nama-Mu”, berarti orang percaya dipanggil untuk memuliakan nama-Nya. Kalimat “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu…” memuat panggilan agar kita menghadirkanKerajaan-Nya, dan melakukan kehendak Bapa. Kalimat “berikanlah kami makanan kami…” berarti kita harus pergi bekerja mencari nafkah.

Demikian pula dengan doa Paulus agar bangsanya diselamatkan. Ini berarti Paulus harus bekerja dan berjuang untuk keselamatan bangsanya. Jadi tidak heran kalau ia berani mengatakan bahwa ia rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudara, kaum sebangsanya secara jasmani. Dalam kehidupan Paulus kita melihat usahanya dan perjuangannya yang luar biasa demi keselamatan orang lain.

Dalam salah satu kesaksiannya, ia mengatakan: Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: … dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah (Kis. 20:18-24).

Dalam hal tersebut, kita dapat memahami bahwa doa bukanlah sarana untuk mengatur Tuhan dan melanggar tatanan. Tuhan tidak dapat diatur oleh siapa pun, Tuhan mengatur Diri-Nya sendiri berdasarkan tatanan yang ditetapkan-Nya atau yang ada di dalam Diri-Nya. Doa Paulus tidak membuat Tuhan terpaksa menyelamatkan bangsa Israel. Umat Israel pada zaman Paulus harus dengan kehendak bebasnya memilih, menerima Yesus sebagai Mesias atau tidak. Paulus harus berjuang untuk memberitakan Injil bagi bangsanya agar mereka memberi respon yang benar demi keselamatan mereka. Hal ini dapat menegaskan bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh Tuhan, tetapi oleh respon individu.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.