06. BERSAHABAT DENGAN DUNIA

Suatu hari nanti setiap orang pasti menghadap Tuhan yang memberikan kehidupan ini, dan harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dikerjakannya selama hidup di dalam dunia (2Kor. 5:10). Ini adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Perjalanan waktu membawa manusia kepada realitas ini. Setiap detik yang bergema mengisyaratkan bahwa saat itu semakin dekat, bagai arus air yang sangat kuat yang tidak bisa dibendung. Harus diingat terus bahwa panggilan menghadap Tuhan bisa terjadi setiap saat. Hampir tidak pernah Tuhan memberi tahu terlebih dahulu saatnya. Sehingga seseorang tidak tahu kapan gilirannya. Hal ini sudah pasti diketahui oleh setiap orang, tetapi ironinya masih saja tidak bersikap berjaga-jaga. Hal ini menunjukkan bahwa memang mereka tidak berhasrat berdamai dengan Allah, serta berlindung kepada-Nya dari kedahsyatan kekekalan. Biasanya mereka berlindung kepada Tuhan hanya karena masalah duniawi atau pemenuhan kebutuhan jasmani semata.

Oleh karena saat kematian tidak kunjung tiba, maka banyak orang menganggap remeh realitas tersebut, sampai tidak memiliki kesadaran atau penghayatan bahwa waktu itu pasti akan tiba. Bahkan ketika sudah berumur suntuk pun masih berpikir ia bisa memperpanjangnya. Memang kadang-kadang tindakan medis dan peralatannya bisa memperpanjang usia, tetapi tidak bisa membatalkan kematian. Usaha memperpanjang usia kadang juga malah menyiksa. Hidup tidak terasa hidup, sebab penyakit dan penuaan tidak bisa diajak bersahabat. Tuhan sendiri yang telah mengatakan bahwa masa hidup manusia tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh tahun, dan “kebanggaannya” adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan manusia melayang lenyap (Mzm. 90:10). Kata “kebanggaan” di sini terkesan aneh. Mengapa dikatakan kebanggaan? Dalam teks aslinya adalah rohab (רֹהַב). Yang bisa diterjemahkan kekuatan (strength), keangkuhan dan kesombongan (arrogant and pride, object of pride).

Ternyata kata rohab bisa mengandung semacam kata sindiran (satire). Seakan-akan Pemazmur mau mengatakan, setelah melewati perjalanan panjang, apa yang dapat dibanggakan? Beberapa konglomerat tinggal di rumah mewah, hari tuanya hanya tergeletak antara hidup dan mati ditemani oleh suster dan alat medis. Dalam kemiskinan di hadapan Tuhan seperti yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus di Lukas 12:19-20, orang-orang seperti ini sebenarnya telah ditangisi oleh Tuhan dengan ucapan-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu” (Luk. 19:42). Suatu keadaan yang sangat tragis. Betapa malangnya orang-orang seperti ini. Orang-orang seperti ini pasti gentar terhadap kematian. Tetapi karena mereka tenggelam dengan kekayaan dunia, seakan-akan mereka terkondisi tidak gentar terhadap kematian. Tetapi suatu saat ketika menghadapi realitas ini, mereka pasti akan gemetar dan sangat menyesal karena tidak belajar takut akan Allah.

Seharusnya realitas kematian yang bisa menjemput orang setiap saat, menjadi sesuatu yang menggetarkan jiwa. Kalau seseorang sudah tidak pernah tergetarkan oleh realitas ini, maka ia tidak pernah takut akan Allah. Manusia lebih digetarkan oleh banyak hal (masalah dunia fana), tetapi tidak takut akan Allah. Seharusnya seseorang tergetarkan oleh karena realitas ini, sehingga sungguh-sungguh menjadi takut akan Allah dan berdamai dengan Allah secara benar pula. Harus diperhatikan, bahwa seseorang yang datang ke gereja belum berarti bahwa orang tersebut telah berdamai dengan Allah. Perdamaian dengan Allah ditandai dengan kesediaan hidup menuruti segala keinginan-Nya. Oleh sebab itu kita harus berpikir seakan-akan kematian sudah di depan mata, atau hari ini adalah hari terakhir kita. Dengan demikian kita akan sungguh-sungguh mempersiapkan diri dengan benar. Kalau kematian benar-benar menjemput dan kita diperhadapkan kepada penghakiman Tuhan, kita sudah siap, bahkan bersukacita.

Penyesatan yang terjadi dewasa ini kepada jemaat adalah dikesankan bahwa kalau sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan pergi ke gereja berarti sudah berdamai dengan Allah. Padahal mereka tidak tahu bagaimana percaya itu. Mereka telah tertipu oleh ajaran gereja tertentu dan rezimnya yang mendevaluasi kebenaran. Mereka merasa sudah nyaman dan merasa telah memiliki jaminan keselamatan. Padahal keselamatan harus dikerjakan sejak masih hidup di dunia. Perpindahan ke surga bukan nanti setelah mati, tetapi sejak hidup di dunia ini kita harus melakukan perpindahan. Tuhan Yesus berkata: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Orang yang masih mencintai dunia ini artinya bersahabat dengan dunia, dan menjadikan dirinya musuh Allah. Bersahabat dengan dunia artinya memiliki pengertian bahwa dunia dan segala hiburannya dapat membahagiakan hidupnya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.