05. SEMUA HARUS MENGHADAP PENGADILAN ALLAH

Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, maka tidak ada pertanggungjawaban manusia terhadap Allah. Manusia tidak perlu bertanggungjawab kepada siapa pun, juga kepada Allah, karena secara otomatis dengan sendirinya semua manusia terpisah dari Allah selama-lamanya tanpa ada perhitungan sama sekali. Kalau Yesus tidak mengangkat dosa isi dunia (Yoh. 1:29), maka tidak ada penghakiman, sebab semua manusia sudah jelas dan nyata-nyata tidak ada yang benar. Betapa mengerikan keadaan ini. Inilah yang dikehendaki oleh kuasa kegelapan. Dengan demikian manusia menjadi makhluk yang seakan-akan gratis. Manusia tidak perlu berbuat baik, sebab sebaik apa pun perbuatan manusia, akhirnya pasti terbuang dari hadirat Allah selama-lamanya. Tidak bisa dipersalahkan kalau filosofi atau prinsip manusia seperti ini adalah “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32).

Dengan pengorbanan Yesus dikayu salib, maka semua dosa dipikul-Nya, sehingga manusia dapat memperoleh pembebasan akibat dosa yang dilakukan, tetapi bukan berarti manusia bebas dari tanggungjawab. Justru sejak Yesus memikul dosa manusia, maka manusia kembali dapat bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Dalam hal ini yang membuat semua manusia kehilangan tanggung jawab adalah Adam, tetapi Yesus membuat manusia dapat memperoleh kembali tanggungjawab atas dirinya sendiri. Dalam hal ini, bagi mereka yang tidak mendengar Injil dengan benar mendapat kesempatan dihakimi menurut perbuatannya. Mereka bisa hidup kembali di dunia yang akan datang atau masuk ke surga sebagai anggota masyarakat.Tetapi bagi orang percaya, bukan hanya berpeluang masuk surga, tetapi sejak di bumi belajar bertanggungjawab meresponi karya salib Kristus dengan memberi diri dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 12:6). Nantinya mereka yang serupa dengan Yesus menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Bagi orang percaya, penebusan oleh darah Yesus harus membawanya kepada kesempurnaan, bukan hanya menjadi manusia yang baik, tetapi harus menjadi sempurna seperti Bapa. Bagi orang yang tidak mendengar Injil, mereka harus berbuat baik, karena semua orang dihakimi menurut perbuatan. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa Yesus juga mati untuk mereka, sehingga penghakiman bagi mereka dapat dilakukan. Kalau Yesus tidak mati untuk semua orang, maka perbuatan sebaik apa pun sia-sia. Harus ada penebusan sehingga perbuatan baik orang yang tidak mengenal Injil menjadi berharga, sebab bisa membuat mereka masuk dunia yang akan datang (Mat. 25:31-46). Hal ini bukan berarti ada keselamatan di luar Kristus. Harus ditegaskan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus. Yesus mati untuk semua orang. Jadi keselamatan hanya ada di dalam Yesus (Kis. 4:12). Perbedaan antara orang yang tidak percaya dengan orang percaya adalah bahwa orang percaya dituntut bukan hanya berbuat baik, tetapi harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang percaya diberi kuasa dan kesempatan untuk memenuhi rencana Allah menciptakan manusia yang segambar dan serupa dengan diri-Nya.

Adalah keliru kalau dikatakan bahwa Yesus mati untuk sebagian orang, sebagian yang lain dibiarkan atau tidak bisa tidak masuk neraka. Pandangan ini akan membingungkan ketika membahas mengenai penghakiman. Banyak orang Kristen membaca kalimat dalam Alkitab bahwa orang percaya diselamatkan bukan karena perbuatan baik tetapi karena iman, tanpa melihat konteks ayat tersebut.Konteks ayat itu adalah menghadapi orang-orang (khususnya orang Yahudi) yang berkeyakinan bahwa keselamatan bisa dicapai dengan perbuatan baik. Dalam Yohanes 8:31-39dikemukakan mengenai keangkuhan orang-orang Yahudi yang merasa sebagai anak-anak Abraham yang tidak dilahirkan dari zina.Mereka merasa diri sebagai orang-orang benar, sehingga mereka tidak membutuhkan keselamatan dengan cara lain. Padahal keadilan Allah menuntut dosa harus mendapat hukuman yang setimpal, sementara darah domba tidak dapat menyucikan dosa manusia.

Bagaimanapun, manusia membutuhkan Juruselamat yang menanggung dosa dunia (Yoh. 1:29). Kepada orang-orang yang merasa bisa mencapai keselamatan dengan perbuatan baik, Firman Tuhan diberikan kepada mereka untuk mengerti bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan. Ini bukan berarti perbuatan baik tidak bernilai sama sekali. Semua dosa telah dipikul di kayu salib, tetapi setiap orang tetap harus menghadap takhta pengadilan Allah untuk dinilai apakah mereka layak masuk dunia yang akan datang-yaitu memiliki keberadaan batiniah yang baik- atau tidak. Dengan demikian semua manusia harus bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri di hadapan Tuhan, di pengadilan-Nya (Rm. 14:12).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.