04. BISA DITOLAK

Dalam Roma 9:19-23 tertulis:Sekarang kamu akan berkata kepadaku: “Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?” Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan — justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan… Melalui tulisan ini Paulus menegaskan bahwa tidak ada makhluk manapun yang berhak dan bisa menentang Tuhan. Paulus menunjukkan bahwa ciptaan dapat digambarkan seperti tanah liat di tangan tukang periuk. Tuhan adalah tukang periuk yang berkuasa memperlakukan tanah liat atau ciptaan-Nya sesuka-Nya. Walau demikian, harus diingat bahwa Tuhan memiliki tatanan di dalam Diri-Nya, Tuhan tidak mungkin bertindak di luar sifat dan hakikat-Nya tersebut.

Tanah liat di sini menunjuk bangsa Israel (harus diperhatikan bahwa konteks pasal ini adalah pemilihan Israel). Dalam hal tersebut Tuhan berhak memilih Israel, dan juga bisa membuangnya, jika mereka tidak menerima penyelamatan dari Tuhan. Faktanya memang bangsa Israel hendak membangun kebenarannya sendiri, yaitu kebenaran karena melakukan hukum Taurat, bukan karena iman kepada Tuhan Yesus. Mereka menolak kasih karunia itu, maka Tuhan juga menolak mereka. Dalam Roma 11:17-19, 25 tertulis, bahwa Israel sebagai carang atau cabang asli dari suatu pohon, dipatahkan karena ketegaran hati mereka. Bukan karena Tuhan menetapkan mereka untuk dipotong, tetapi hal itu terjadi karena ketegaran hati mereka. Di dalam Roma 11:20-23, Paulus mengingatkan bahwa kalau cabang asli bisa dipangkas karena kekerasan hati, maka cabang liar (orang-orang non Yahudi) juga bisa dipotong, kalau tidak tetap hidup di dalam kemurahan-Nya.

Dengan penjelasan ini dapat ditarik benang merah yang penting, bahwa pemilihan bangsa Israel sebagai umat pilihan adalah berdasarkan kedaulatan Allah, bukan berdasarkan perbuatan. Namun demkian, tidak semua orang Israel menjadi umat pilihan abadi, sebab yang menjadi umat pilihan pada akhirnya adalah anak-anak Abraham secara atau di dalam iman. Seperti bangsa Israel sebagai cabang asli bisa dipotong karena kekerasanatau ketegaran hati mereka, maka cabang dari pohon zaitun liar -yaitu orang-orang yang memiliki kesempatan untuk menjadi umat pilihan berdasarkan iman dari orang-orang non Yahudi- juga dapat dipotong-Nya pula jika tidak tetap di dalam kemurahan-Nya. Dengan demikian, Roma 9 bukan sebuah legitimasi untuk menyatakan bahwa Tuhan menentukan keselamatan setiap individu. Keselamatan masing-masing individu ditentukan oleh responnya terhadap kasih karunia. Jadi, baik orang Yahudi maupun non Yahudi yang mengeraskan hati akan ditolak atau terbuang dari hadirat Tuhan.

Roma 9:22, tertulis: Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan – Ayat ini menunjukkanbahwa bangsa Israel yang menolakkarya keselamatan akan mendapat murka Tuhan. Inilah yang membuat Paulus terbeban sampai rela terpisah dari Kristus demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya. Hal ini jelas menunjukkanbahwa Tuhan tidak pernah bermaksud merancang dan menentukan kebinasaan atas orang-orang tertentu atau keselamatan untuk orang-orang tertentu secara sepihak. Bangsa Israel ditolak karena ketegaran hati mereka, oleh sebab itu orang non Yahudi pun bisa dipotong ke luar dari umat Perjanjian sebagai anak-anak Abraham, kalau tidak tetap tinggal dalam kemurahan-Nya

Setelah sebagian bangsa Israel ditolak, kemudian Allah memilih bangsa-bangsa lain dan orang-orang Yahudi yang percaya sebagai alat kemuliaan-Nya. Dalam Roma 9:23-26 tertulis: …justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab nabi Hosea: “Yang bukan umat-Ku akan Kusebut: umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih.” Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” di sana akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.” Dari ayat ini jelas sekali bahwa pemilihan atas orang-orang yang menjadi umat pilihan (baik orang Yahudi maupun non Yahudi) dimaksudkan agar mereka dipersiapkan untuk kemuliaan Bapa dan Tuhan Yesus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.